www.sandratiket.com
Kompleks PG Camming, Blok Garuda no.8
BONE - SULSEL

DISTRIBUTOR RESMI
PT. Arena Tiket Indonesia
Akta Notaris No. : 87, Tanggal : 18 November 2013
Daftar Perusahaan No. : AHU-0125170.AH.01.09 Tahun 2013
SIUP No. : 503/010333/Mkr/V/2014
TDP No. : 120215202007
NPWP No. : 66.589.515.7-542.000

Jumat, 02 Januari 2015

Ini Pentingnya Sabuk Pengaman Terus Dipakai Selama Pesawat Mengudara




Jakarta - Banyak orang buru-buru mencopot sabuk pengaman setelah lampu tanda sabuk pengaman di pesawat udara mati. Ada yang beralasan sabuk pengaman membuat posisi tidak bebas. Padahal mengenakan sabuk pengaman selama pesawat mengudara bisa meminimalkan cedera.
dr Soemardoko Tjokrowidigdo, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penerbangan Indonesia, menjelaskan pada saat mengalami turbulensi, pesawat akan berguncang. Sebab pesawat kehilangan ketinggian secara mendadak atau terlempar mendadak pada saat di angkasa.

"Ini tergantung arah gayanya ke mana. Kalau arahnya ke atas maka orang yang tidak mengenakan sabuk pengaman bisa terlempar ke atas. Makanya, biasanya awak pesawat saat keadaan berbahaya memerintahkan penumpang untuk duduk dan memakai seat belt, kalau tidak orang yang tidak memakai sabuk pengaman tersebut bisa terlempar ke atas," tutur dr Soemardoko dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Senin (29/12/2014).

Bisa jadi guncangan pesawat datang mendadak, sehingga awak pesawat tidak sempat mengingatkan penumpang untuk menggunakan sabuk pengamannya. Karena itulah, tetap mengenakan sabuk pengaman meski lampu tanda sabuk pengaman mati, dirasa lebih baik.

"Pintu darurat pesawat juga bisa terbuka secara paksa (saat terjadi turbulensi ekstrem, -red), sehingga antara tekanan luar pesawat dan di dalam akan ada penyesuaian tekanan. Penumpang yang memakai seat belt tadi dapat terkena dekompresi. Sementara penumpang yang tidak memakai seat belt bisa terlempar ke luar. Kondisi penumpang yang terlempar keluar terkena udara yang sangat dingin, sehingga harapan hidupnya sedikit," papar dr Soemardoko.

Garuda Punya Wacana Terbang dari Bandara Pondok Cabe


Jakarta - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menjajaki pemakaian bandara alternatif di sekitar area Jakarta. Maskapai penerbangan pelat merah itu berencana memakai Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan.

Bandara ini akan dimanfaatkan untuk keberangkatan dan kedatangan penerbangan domestik jarak pendek, seperti Jawa bagian tengah hingga Lampung. Pesawat baling-baling milik Garuda tipe ATR 72-600 yang rencananya ditempatkan di bandara tersebut.

"Opsi ATR untuk wilayah tengah Jawa dan ke Sumatera seperti Lampung. Pondok Cabe prospek yang baik. Nanti Jakarta-Cilacap, Jakarta-Lampung, Jakarta-Bandung bisa lewat Pondok Cabe. Ini potensi pasar pesawat propeller," kata Direktur Utama Garuda Arif Wibowo di Kantor Pusat Garuda, Cengkareng, Senin (29/12/2014).

Garuda, kata Arif, memilih Pondok Cabe karena Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur dan Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng sudah padat. Izin penambahan armada baru, tipe baling-baling, di kedua bandara tersebut sudah sangat diperketat sedangkan permintaan angkutan udara ke daerah-daerah seperti ibukota kabupaten terus tumbuh.

"Cengkareng nggak boleh propoller. Bandara Halim juga sudah penuh," jelasnya.
Garuda sedang melakukan pembicaraan secara serius dengan pemilik bandara, yaitu anak usaha PT Pertamina (Persero) terkait pemakaian Bandara Pondok Cabe.

"Itu sudah ada pembicaraan cukup lama dengan Citilink. Dulu ATR mau dipakai Citilink mulai tahun 2012. Terus itu moving ke Garuda. Kita rencana akan ketemu direksi Pertamina. Rencana mau sowan ke Pak Dwi (Soetjpto, Dirut Pertamina)," ujarnya.

Arif menambahkan, infrastruktur bandara tersebut masih bisa dikembangkan. Arif juga punya pandangan berbeda atas kemacetan di sekitar area Bandara Pondok Cabe. Menurutnya kemacetan bisa dipandang sebagai peluang.
"Crowded, berarti di situ ada penumpang. Pasar ada di situ," jelasnya.

Rute Baru AirAsia, Surabaya-Lombok Resmi Beroperasi


Surabaya - Traveler asal Surabaya yang ingin mengunjungi Lombok nan indah, kini punya opsi maskapai baru. AirAsia resmi mengoperasikan rute Surabaya-Lombok PP. Rute ini beroperasi 7 kali seminggu.

AirAsia resmi mengoperasikan rute Surabaya (SUB)-Lombok (LOP) menggunakan Airbus A320 dengan kapasitas 180 tempat duduk. Penerbangan perdana yakni QZ 7830 membawa 152 penumpang lepas landas dari Bandara Internasional Juanda pada 09.55 WIB, dan tiba di Bandara Internasional Lombok Praya pada 11.00 WITA.

"Kami berharap pembukaan rute ini semakin memberi pilihan kepada masyarakat Surabaya yang ingin bepergian ke Lombok dan sebaliknya," tutur Direktur AirAsia Indonesia, Sunu Widyatmoko dalam rilis yang diterima detikTravel, Selasa (16/12/2014).

Penerbangan rute Surabaya-Lombok tersebut akan melengkapi layanan AirAsia Malaysia yang saat ini melayani 2 rute internasional. Misalnya, Lombok-Kuala Lumpur dan Lombok-Johor Bahru.
"Kami pun optimis penerbangan ini dapat berkontribusi untuk mempromosikan pariwisata Surabaya, Lombok, maupun Nusa Tenggara barat ke wisatawan domestik dan mancanegara," tambah Sunu.
Penerbangan perdana Surabaya-Lombok cukup meriah. Pramugari dan pramugara secara khusus mengenakan kain tenun dan hiasan khas Lombok. Mereka juga mengajak penumpang bernyanyi selama penerbangan berlangsung. Penumpang perdana juga mendapat merchandise eksklusif AirAsia yang diberikan di atas pesawat.

Rute Surabaya-Lombok PP berangkat 7 kali dalam seminggu. AirAsia (Indonesia dan Malaysia) saat ini mengoperasikan 17 penerbangan per minggu dari dan menuju Lombok. Baik itu dari Lombok, Kuala Lumpur, dan Johor Bahru.

Garuda Indonesia Kini Menjadi Maskapai Bintang Lima


Jakarta - Maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia kembali menorehkan prestasi bergengsi di kancah internasional. 11 Desember 2014, secara resmi Skytrax memberikan gelar tertinggi kepada Garuda Indonesia sebagai maskapai penerbangan bintang lima. Prestasi ini merupakan persembahan terakhir manajemen Garuda Indonesia di bawah pimpinan Emirsyah Satar dan menjadi salah satu milestone penting perusahaan.

Dimana dalam program jangka panjang “Quantum Leap 2011 – 2015”, salah satu target Garuda Indonesia adalah menjadi maskapai penerbangan bintang lima. Selain Garuda Indonesia, ada 6 maskapai penerbangan lainnya yang juga dinobatkan menjadi maskapai bintang lima yakni: All Nippon Airways, Asiana Airlines, Cathay Pacific Airways, Hainan Airlines, Qatar Airways dan Singapore Airlines.

CEO Skytrax – Edward Plaisted menilai Garuda Indonesia berhasil melakukan transformasi dalam hal standar dan kualitas pelayanan hingga memenuhi standar sebuah maskapai bintang lima. “Penilaian dilakukan menyeluruh terhadap produk maupun layanan Garuda Indonesia. Baikground service di bandara maupun inflight service. Konsistensi yang dihadirkan produk dan layanan merupakan bagian terpenting dalam penilaian,” jelas Edward.
Armada yang dioperasikan Garuda Indonesia saat ini menawarkan kelas Bisnis dengan fasilitas flat bed seating dimana kursi bisa direbahkan 180 derajat dan kelas Ekonomi dengan ruang kaki seluas 32 – 34 inci. Melalui armada terbaru Garuda Indonesia yakni B777-300 ER, penumpang juga bisa merasakan layanan First Class dan Business Class dengan standar bintang lima.

Penilaian maskapai bintang lima Skytrax juga mempertimbangkan rencana peningkatan layanan yang akan dilakukan Garuda Indonesia pada tahun 2015. Di antaranya, rencana pemindahan operasional ke Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno – Hatta yang merupakan hub utama Garuda Indonesia saat ini.

Pemindahan operasional ini akan memberikan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman bagi para pengguna jasa Garuda Indonesia dan maskapai anggota SkyTeam melalui layanan transfer dan bandara yang terpadu, serta fasilitas premium yang terus diperbarui. Informasi lebih lanjut mengenai Garuda Indonesia, silakan mengunjungi www.garuda-indonesia.com. FollowTwitter @IndonesiaGaruda atau Like fanpage Facebook Garuda Indonesia untuk bersama-sama merayakan prestasi gemilang ini.

Selasa, 14 Oktober 2014

Garuda Tambah Frekuensi Penerbangan Jambi-Jakarta Jadi 4 Kali Sehari

Jakarta - PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA) menambah frekuensi penerbangan Jambi-Jakarta menjadi empat kali sehari mulai 1 Oktober 2014. Sebelumnya rute ini hanya dilayani sebanyak tiga kali sehari.

Sales Manager Garuda Cabang Jambi, Ubay Ihsandi, mengatakan penambahan rute ini seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Jambi terutama di sektor pariwisata dan bisnis.

"Jambi punya potensi yang bisa dimanfaatkan dan kami berharap ekspansi Garuda ini bisa membantu pertumbuhan ekonomi Jambi," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (2/10/2014).

Maskapai pelat merah itu melayani rute Jambi-Jakarta dengan pesawat Boeing 737-800 NG berkapasitas 162 penumpang. Selain menambah frekuensi, Garuda juga berencana membuka rute lain dari Jambi.

Beberapa yang sedang dikaji adalah dari Jambi ke Palembang, Kepulauan Riau, Batam, dan Sumatera Selatan.

Citilink Akan Buka Rute Makassar-Surabaya

Jakarta - Maskapai Citilink Indonesia makin melebarkan sayap untuk terbang ke berbagai destinasi di Indonesia. Kali ini, Citilink akan membuka rute baru Makassar-Surabaya.

President & CEO Citilink, Arif Wibowo mengungkapkan, saat ini Citilink telah mengoperasikan 34 rute dan ditargetkan bisa menambah hingga 38 rute sampai akhir 2014.

"Rute kita masih akan menambah. Nanti akan nambah Makassar-Surabaya," kata Arif saat ditemui di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (7/10/2014).

Selain Makassar-Surabaya, Arif menyebutkan akan menambah frekuensi penerbangan Jakarta (Halim)-Malang, Malang-Lombok, Malang-Bandung, dan Malang-Banjarmasin. Ini untuk memperkuat frekuensi penerbangan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, hingga 7 slot.

Penambahan rute dan frekuensi penerbangan juga sebagai salah satu cara untuk menambah jumlah penumpang yang ditargetkan bisa mencapai 8,2 juta pada akhir tahun.

"Sampai Agustus, kita sudah mengangkut 5 juta penumpang. Target 8,2 juta melalui 38 rute dan 200 penerbangan setiap harinya," ungkap dia.

Selain itu, perseroan juga berencana menambah 3 pesawat jenis Airbus A320. Dengan penambahan tersebut, total pesawat yang dimiliki Citilink bisa mencapai 32 pesawat pada akhir tahun.

"Meskipun Citilink pemain baru berbasis LCC (Low Cost Carrier), hari ini sudah punya 29 pesawat. Akan jadi 32 dengan Airbus 320 180 seater ke 32 kota. Penerbangan 170 per hari, akhir tahun 200 penerbangan, 38 rute. Hari ini masih 34 rute," jelas dia.

Gabungkan Tiket dan Airport Tax, Garuda Tekor Rp 2,2 M/Bulan

Jakarta - Maskapai PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sejak 1 Oktober 2012 menerapkan sistem penggabungan tiket dan Passanger Service Charge(PSC) alias airport tax untuk penerbangan domestik. 

Selama dua tahun diterapkan sistem PSC on Ticket ini, praktis hanya Garuda dan anak usahanya (Citilink) yang menerapkan. Selama menggabungkan PSC ke dalam tiket, Garuda ternyata harus nombok alias tekor Rp 2,2 miliar per bulan.

"Mengakibatkan nilainya cukup material, Rp 2,2 miliar berkurang setiap bulan," kata Executive Project Manager Dedicated Terminal Garuda Indonesia Andi Rivai di, Senayan, Jakarta, Rabu (24/9/2014).

Kerugian ini disebut PSC tiket 'multileg stop over' yang tidak ter-collect. Misal wisatawan Jepang atau Belanda terbang memakai armada asal negaranya menuju Yogyakarta. Di Indonesia, penumpang harus transit di Denpasar atau Jakarta, kemudian berganti pesawat ke Yogya. 

Mereka bisa saja berganti pesawat memakai Garuda ke Yogya. Di lokasi transit, PT Angkasa Pura I atau II (Persero) menagih PSC ke penumpang padahal penumpang sudah membayar saat berangkat di negara asalnya. 

Mau tidak mau, Garuda yang harus membayar karena penumpang merasa telah membayar di awal saat berangkat. Hal ini diakibatkan sistem PSC on Ticket maskapai Garuda dan asing tidak bersinergi dengan sistem PSC on Ticket di Angkasa Pura I dan II. 

Penerapan PSC on Ticket yang dipakai dan dikelola operator bandara di Indonesia di bawah standar internasional yang dipakai Internasional Air Transport Association (IATA). Alhasil pembayaran PSC penumpang di luar negeri ke Indonesia tidak tercatat pada Global Distribution System (GDS) sehingga menyulitkan penagihan PSC oleh operator bandara RI.

"Akibatnya Garuda yang harus menanggung pembayarannya," kata VP Corporate Communication Garuda Pujobroto.

Pujo menerangkan pada dasarnya Garuda mendukung program PSC on Ticket namun syaratnya penggabungan tiket dan airport tax harus mengacu pada standar IATA.

"Artinya semua penerbangan domestik dan internasional dari atau ke Indonesia harus menerapkan PSC on Ticket," sebutnya.

Terima Kasih Telah Berkunjung ke sandratiket.com